Walupun bukan sebagai alutsista baru, dikarenakan unit yang dipakai Indonesia merupakan bekas pakai Marinir Korea Selatan, tapi LVTP-7 termasuk terkenal aksinya. Di kancah dunia sudah jelas, LVTP-7 turut aktif dalam Perang di Irak serta Somalia, dan di Indonesia kendaran tempur ini bisa dikatakan seperti “Tank Kepresidenan”, karena sering digunakan oleh Presiden RI untuk melakukan inspeksi ketika acara Latihan Gabungan TNI.
LVTP-7 dproduksi tahun 1984 dan diterima oleh Korps Marinir di tahun 2009/2010, jumlah yang didatangkan dari Korea Selatan adalah 15 unit. 10 unit ditugaskan di Batalyon Tank Amfibi 2 (Jakarta) sedangkan lima unit sisanya berada di Batalyon Tank Amfibi 1 (Surabaya). LVTP-7 pada dasarnya diproduksi oleh FMC Corporation, Amerika Serikat, tapi LVTP-7 milik Korps Marinir TNI-AL buatan Korea Selatan, perusahaan pembuatnya pun juga bukan FMS, tapi diproduksi berdasarkan lisensi dari Samsung Techwin. Indonesia mendapatkan kendaraan tempur ini melalui program hibah. LVTP-7 pabrikan Korea Selatan ini seluruhnya telah diupgrade ke varian AAV (Assault Amphibious Vehicle)-7A1 dan kendaraan tempur ini sangat tepat dioperasikan dari kapal berjenis LPD (Landing Platform Dock), seperti KRI Surabaya serta KRI Makassar.
Sebagai kendaraan tempur pengangkut personel, kelengkapan persenjataan pada LVTP-7 terbilang cukup terbatas, pastinya tidak didesain untuk menggempur MBT (Main Battle Tank). Senjata utamanya, LVTP-7 menggunakan jenis SMB (senapan mesin berat) browning M2HB berkaliber 12,7 mm. Pada dasarnya kendaraan tempur ini biasanya membawa hingga 1200 peluru berkaliber 12,7 mm. Tapi bisa juga SMB digantikan dengan pelontar granat berkaliber 40 mm dengan jenis peluru M430 berkategori HEDP (High Explosive Dual Purpose). Sedangkan dari aspek perlindungan, ranpur ini dilengkapi smoke discharger kaliber 40 mm. LVTP-7 memilikki lapian baja standar 45 mm.
Dari segi komunikasi, LVTP-7 Marinir menggunakan radio TR6000 produksi Saab Grintek Technologies, Afrika Selatan. TR6000 merupakan jenis radio low band frequency hopping VHF. Sedangkan mesin penyokongnya, LVTP-7 menggunakan General Motors 8V53T yang diletakkan pada kompartemen depan. Dengan daya yang dihasilkan sebesar 400 hp dan didukungan sistem transmisi semi otomatis FMC-400-3 menggunakan empat gigi maju dan dua gigi mundur. Dengan kapasitas fuel tank mencapai 650 liter, kendaraan tempur ini bisa dipacu hingga kecepatan 64 Km/jam di darat dengan jarak tempuh 580 Km. Sedangkan saat berenang, berbekal sepasang waterjet di kiri dan kanannya bisa menghasilkan daya dorong mencapai kecepatan 12-14 Km per jam.
Kelebihan lain dari APC amfibi ini, selain dapat membawa 20 pasukan infanteri, LVTP-7 juga memiliki pompa elektrik otomatis untuk menyemburkan air bila ada air yang masuk ke dalam kompartemen. Jika sistem elektrik tak bekerja, masih bisa menggunakan pompa mekanik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar