Deskripsi Blog
BlogZonaMiliter adalah blog Berita,ulasan, artikel Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Perkembangan Alutsista terkini, serta perkembangan POLITIK DALAM DAN LUAR NEGERI.
Popular Posts
-
Bangsa Indonesia merupakan negara terbesar di ASEAN, guna mengantisipasi segala ancaman dan gangguan, alutsista Indonesia dilengkapi s...
-
Pemerintah Inggris dan Belanda tidak terima begitu mengetahui bangkai kapal perangnya yang tenggelam di Laut Jawa saat berlangsungnya Perang...
Jumat, 25 Agustus 2017
TNI Beli 50 Unit Ranpur Baru Tahun 2018
RAPBN 2018 telah dipublikasi. Dalam rancangan anggaran tersebut Kementrian Pertahanan mendapatkan posisi kedua yang terbesar setelah Kementerian PU dan Perumahan Rakyat. Namun demikian, jumlah dana yang dianggarkan menurun dibandingkan tahun 2017. Tahun 2018 nanti anggaran Kemhan hanya mendapat jatah Rp 105.874,6 miliar. Ini menunjukkan penurunan sebesar 11,8 persen jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi dalam tahun 2017 sebesar Rp 119.975,1 miliar. Namun demikian, program modernisasi dan tetap menjadi prioritas. Salah satunya adalah pengadaan 50 unit kendaraan tempur untuk TNI Angkatan Darat.
TNI Angkatan Darat sendiri diketahui memiliki sejumlah rencana pengadaan. Diantaranya adalah penambahan meriam Caesar dan roket Astros, pengadaan heli Mi-26, panser Pandur dan lain sebagainya. Namun pengadaan-pengadaan tersebut merupakan pengadaan melalui pinjaman luar negeri, yang tak sepenuhnya bergantung pada dana APBN. Lalu pertanyaannya, 50 unit ranpur apakah yang akan dibeli tersebut?
ARCinc mendapat sedikit bocoran bahwa ranpur tersebut adalah M-113. Kemungkinan ranpur M-113 yang dibeli nantinya berasal dari Italia, yang kemudian diperbarui di Belgia, sebelum dikirim ke Indonesia. Tampaknya, di masa depan, tulang punggung infantri mekanis TNI-AD memang akan bertumpu ke ranpur M-113. Karena itulah, kebutuhan atas ranpur ini pun terus bertambah.
Selain itu, seperti terlihat dalam Latancab TNI AD 2017, M-113 membuktikan mampu bergerak cepat mengimbangi Leopard di segala medan. Kabin yang cukup lapang dan olah gerak inilah yang membuat banyak prajurit infantri jatuh cinta. Sehingga tidak heran jika nantinya 50 unit ranpur yang akan dibeli melalui dana APBN.
Selain matra darat, modernisasi matra laut dan udara melalui dana APBN juga dijabarkan. Untuk TNI-AL akan dilakukan pembelian 10 unit alutsista berupa KRI atau KAL atau Ranpur. Sementara untuk matra udara, prioritasnya adalah modernisasi pusat komando Kohanudnas.
Kamis, 24 Agustus 2017
Mil Mi-26T2: Varian Tercanggih Helikopter Angkut Berat Untuk Puspenerbad TNI AD
Meski proses pengadaan CH-47F Chinook untuk Puspenerbad terus berjalan, namun ternyata pengadaan helikopter angkut berat dari negara rival Amerika Serikat, yakni Rusia tak lantas surut. Kabar rencana pembelian helikopter Mil Mi-26 sudah terdengar sejak pertengahan tahun 2016, dan justru kini ada kabar mengejutkan, bahwa rencananya Mi-26 akan mulai memperkuat Puspenerbad pada periode 2018 – 2019.
Kabar tersebut pertama kali diwartakan majalah internal TNI AD, Palagan Edisi Maret 2017. Bahkan varian Mi-26 yang akan diakuisisi mulai terendus jelas, yakni Mi-26T2, salah satu varian terbaru dari keluarga helikopter Mi-26 hasil rancangan Mil Moscow Helicopter Plant, salah satu divisi Russian Helicopters. Produksi helikopter ini sendiri dipasrahkan ke Rostvertol. Varian Mi-26T2 diluncurkan perdana pada tahun 2011. Karena membawa sejumlah perubahan pada sisi avionik, Mi-26T2 memasrahkan pengembangannya pada OJSC Ramenskoe Instrument Design Bureau (RKPB).
Ditangan RKPB, Mi-26T2 tak lagi seperti generasi Mi-25 di era Perang Dingin, helikopter yang masuk kelas heavy-lift transport helicopter ini telah dibekali dengan glass cockpit dengan LCD, control panel, airborne computer, dan sistem penjejak dengan infrared. Bila kustomer mengendaki, Mi-25T2 bisa pula dipasangi perangkat Tranzas TSL-1600, yaitu instrumen tambahan untuk mendukung penerbangan malam hari, salah satunya dengan adopsi night vision goggles (NVG).
Fitur avionik lainnya yang ada di Mi-26T2 seperti BREO-26 digital avionics suite untuk meningkatkan stabilitas dan kendali penerbangan dalam beragam kondisi dan medan. Kemudian ada perangkat NPK 90-2 flight and navigation system yang dikombinasikan dengan sisem komunikasi berbasis satelitAVSTAR/GLONASS. Mi-25T2 juga telah dilengkapi airborne flight recorder system, backup device system, on-board control system, dan clock gyro stabilised optoelectronic system.
Untuk dapur pacu, Mi-26T2 mendapat modernisasi mesin 2 x D-136-2 turbo-shaft gas turbine dari Motor Sich. Mesin ini sudah menggunakan teknologi FADEC (Full Authority Automatic Control). Agar pas menyasar pangsa ekspor, mesin Mi-26T2 sudah dirancang ideal digunakan pada iklim panas dan tropis. Jarak jelajah terbang helikopter ini mencapa 800 km, namun dengan tambahan tangki bahan bakar, jarak tempuh Mi-26T2 bisa digenjot hingga 1.905 km.
Sumber : Indomiliter
Boeing CH-47F: Pilihan Indonesia, Inilah Varian Tercanggih Keluarga Chinook
Beli empat, delapan atau sepuluh unit kini tengah menjadi pertimbangan Pemerintah Indonesia untuk mengakuisisi helikopter angkut berat CH-47 Chinook. Dan seperti diutarakan petinggi Boeing, Yeong-Tae Pak, Boeing Regional Director for Southeast Asia, disebut bahwa yang diinginkan Indonesia adalah varian CH-47F, yang tak lain varian terbaru dan termutakhir dari keluarga Chinook.
Meski masih menanti deal kontrak pengadaan, menelisik helikopter angkut berat ini menjadi menarik, pasalnya saat Kavaleri Udara TNI AD mengoperasikan AH-64E Apache Guardian dan helikopter angkut sedang Black Hawk, maka gelar mobil udara TNI AD dan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) bakal menjadi klop dengan adanya sosok CH-47F Chinook. Bakal punya varian Chinook lebih baru dari milik Singapura, apa saja keunggulan dari CH-47F?
![]() |
| CH-47 Chinook mampu mendarat di air, bahkan disebut mampu mendarat di air dengan kondisi sea state 3. |
![]() |
| Dengan kemampuan mendarat di air, pintu rampa dapat mendukung aktivitas pasukan amfibi. |
CH-47F dikembangkan berdasarkan dari varian CH-47D, di CH-47F pihak Boeing mengadopsi tipe mesin baru, peningkatan kekuatan airframe, dan sistem avionic baru. Bila Chinook perdana CH-47A meluncur pada tahun 1962, maka CH-47F baru terbang perdana pada tahun 2001, dan produksi secara komersiakl baru dilakukan pada tahun 2006. Karena populasi CH-47D yang besar, Boeing menawarkan CH-47F yang berasal dari standar CH-47D (remanufaktur). Hingga tahun 2014, setidaknya sudah 300 unit CH-47F yang dikirimkan kepada AD Amerika Serikat dan US National Guard. Selain untuk konsumsi dalam negeri, kini CH-47F sudah dioperasikan oleh Kanada (15 unit), Belanda (6 unit), Inggris (24 unit) dan Australia yang telah mengorder 7 unit CH-47F untuk angkatan daratnya.
Kenyang dalam sejumlah operasi di Afghanistan dan Irak, misi yang telah diemban CH-47F mencakup transports troops, war supplies, battlefield equipment, medical evacuation, search and rescue, aircraft recovery, dan parachute drop. Helikoper dengan glass cockpit ini dapat menampung 33 sampai 55 penumpang, bergantung pada konfigurasi kargo dan misi. Seperti dalam misi medical evacuation (medevac), ruang kargo dapat disulap untuk membawa 24 tandu plus perlengkapan medis. Secara teori, ruang kargo dapat dimuati payload hingga 10,9 ton, ini dapat diartikan Chinook dapat membawa ranpur sekelas Hummer atau Komodo 4×4.
Khusus untuk angkut beban eksternal, Chinook dilengkapi tiga titik pengait (hook) di bagian bawah tubuhnya yang bisa dipergunakan selaligus. Tiga titik pengait tersebut dipasang segaris di titik simetris tubuh heli. Kapasitas terbesar sudah barang tentu ada pada hook utama yang ada di bagian tengah, yang punya kemampuan angkat beban 12 ton. Sementara hook di depan dan belakangnya masing-masing punya kemampuan angkat 7,5 ton. Untuk hook depan dan belakang bisa difungsikan untuk mengaitkan beban tambahan, atau untuk menstabilkan beban yang sudah dikaitkan di hook tengah, semisal saat Chinook mengangkat sebuah ranpur.
Dapur pacu CH-47F Chinook disokong dua mesin Honeywell T55-GA-714A turboshaft, yang tiap mesin dapat menghasilkan tenaga 4733 shp. Dengan performa ini menjadikan CH-47F menjadi helikopter yang lebih cepat dibanding helikopter serbu dan helikopter angkut pada umumnya, dimana kecepatan maksimum CH-47F bisa sampai 300 km per jam.
Jumlah awak CH-47F masih sama dengan varian terdahulu, yakni tiga orang terdiri dari pilot, copilot dan flight engineer. Sebagai elemen kavaleri udara, CH-47F umumnya dilengkapi dua door gun/minigun kaliber 7,62 mm pada sisi kiri dan kanan. Bahkan di ujung pintu rampa juga ditempatkan gunner dengan senjata serupa dengan kaliber 7,62 mm.
Khusus pesanan Inggris diberi label CH-47 Chinook Mk6 yang diterima tahun 2013, sementara varian Kanada diberi kode CH-147F, Chinook Kanada sudah mendapat modifikasi khusus menyangkut local suite, long range fuel tanks, dan perangkat FLIR (Forward Looking Infrared).
Mau tahu harga CH-47F Chinook yang kondang disebut Improved Cargo Helicopter? Untuk yang gress alias asli baru dibandrol US$32 juta. Sementara CH-47F yang berasal dari remanufaktur varian CH-47D/SD dibandrol US$26,5 juta. Bila opsi yang diambil mengaitkan permintaan ToT (Transfer of Technogy) maka CH-47F yang keluaran asli baru yang akan didatangkan. (Gilang Perdana)
Sumber : Indomiliter
Mil Mi-26: Kandidat Helikopter Angkut ‘Raksasa’ Untuk Puspenerbad TNI AD
Kebutuhan helikopter angkut berat tentu tak bisa ditawar untuk menunjang operasional TNI. Setelah sebelumnya menggunakan Mil Mi-17 V5, Puspenerbad TNI AD sebagai elemen kavaleri udara nasional dikabarkan tengah dalam proses menerima helikopter angkut berat asal AS, Boeing CH-47 Chinook. Meski berita pengadaan CH-47 Chinook cukup santer, namun hingga ini toh belum juga dilangsungkan kontrak pembeliannya. Lepas dari itu, muncul kabar lain, bahwa TNI AD justru tertarik pada helikopter angkut raksasa Mil Mi-26 dari Rusia.
Meski kabar pengadaan Mil Mi-26 belum bisa dikonfirmasi, tapi sinyal hadirnya helikopter yang sempat tampil dalam film Die Hard 5: A Good Day to Die Hard (2013), mendapat dukungan dari pihak internal user, terlebih Puspenerbad selama ini telah berpengalaman menggunakan helikopter asal Rusia, seperti Mil Mi-17 V5 dan heli serbu Mil Mi-35P Hind. Seperti halnya kabar jumlah CH-46 Chinook yang ditawarkan ke Indonesia, Mil Mi-26 yang rencananya akan didatangkan untuk TNI AD diproyeksikan sebanyak empat unit. Dan bila mengacu ke periode pengadaan, helikopter yang mampu membawa tank ini idealnya hadir pada periode tahun 2016 – 2019.
Bila nantinya Mil Mi-26 jadi memperkuat arsenal Puspenerbad, rasanya kehadiran helikopter ini bakal mendapat sambutan hangat dan suka cita dari warga, khususnya penggemar alutsista asal Rusia. Pasalnya, Mi-26 bisa menjadi obat rindu saat di era 60-an, TNI AU pernah mengoperasikan helikopter angkut raksasa Mil Mi-6. Merujuk ke sejarahnya, hadirnya Mil Mi-26 tak lain sebagai pengganti dari Mil Mi-6, dan sayangnya tidak ada jejak Mi-6 yang bisa dilihat saat ini sebagai monumen atau museum di Indonesia.
Kembali ke Mil Mi-26, bisa dipastikan sampai saat ini Ia menjadi helikopter terbesar yang ada di muka Bumi. Fakta bahwa Mi-26 raksasa tak hanya bisa dilihat dari ukurannya yang super jumbo, tapi kapasitas cargo pun luar biasa hebat, yakni punya payload 20 ton. Bisa dipastikan tank amfibi andalan Marinir BMP-3F atau truk Ural 4320 mampu dibawa dengan mudah oleh Mi-26. Untuk urusan mobilitas pasukan misalnya, Mi-26 bahkan bisa menandingi daya tampung C-130 Hercules, sebanyak satu kompi pasukan infanteri dengan senjata lengkap dapat langsung diangkut oleh satu unit Mi-26.
Dari sejarahnya, Mil Mi-26 mulai dirancang pada awal 1970 oleh biro desain Mil Moscow Helicopter Plant. Dari bobotnya yang ekstra besar dan punya kemampuan mengangkut kargo lewat sling seberat 12 ton, Mi-26 awalnya diperuntukkan untuk mendukung pekerjaan konstruksi berat, pembangunan jembatan, dan pemasangan transmisi listrik. Saat memasuki tahap pembuatan, Mi-26 diproduksi oleh Rostvertol, yakni dengan terbang perdana pada 14 Desember 1977.
Mil Mi-26 juga dikenal sebagai helikopter pertama di dunia yang menggunakan rotor utama dengan delapan bilah baling-baling. Sumber tenaganya dipasok dari dua mesin turboshaft Lotarev D-136 yang masing-masing mesin mampu menghasilkan tenaga 8.500 kW (11.399 shp). Dalam spesifikasinya, helikopter ini tidak dilengkapi dengan persenjataan, dan sudah lumrah bila Mi-26 dalam operasinya mendapat kawalan dari helikopter gunship.
Kelebihan lain sebagai helikopter raksasa, pada fasilitas ruang kargo dilengkapi dua derek listrik, yang masing-masing punya kapasitas tarik 2,5 ton. Derek ini digunakan untuk memudahkan proses pemindahan muatan di dalam ruang kargo. Awak helikopter juga dapat memantau proses pemuatan dan kondisi ruang kargo lewat kamera CCTV. Untuk menjamin keamanan dalam penerbangan, bila terjadi masalah pada power, Mi-26 sanggup terbang meski hanya dengan satu mesin, pasalnya Mi-26 dirancang dengan sistem berbagi beban pada mesin, jika satu mesin mati, maka otomatis bisa tetap terbang hingga jarak tertentu.
Karena fungsinya asasinya tak melulu untuk kebutuhan militer, Mi-26 banyak juga digunakan oleh pihak sipil, terutama dalam bisnis penerbangan charter pemindahan alat berat. Dan Bila kelak helikopter ini jadi memperkuat TNI, maka Indonesia menjadi negara kedua di Asia Tenggara, setelah Kamboja yang mengoperasikan Mi-26. Dalam kode NATO, helikopter mendapat penamaan sebagai HALO. Sampai saat ini, Mi-26 telah hadir dalam belasan versi. (Gilang Perdana)
Spesifikasi Mil Mi-26
– Crew: Five: 2 pilots, 1 navigator, 1 flight engineer, 1 flight technician
– Capacity: 90 troops or 60 stretchers/20.000 kg cargo
– Length: 40,025 meter (rotors turning)
– Rotor diameter: 32 meter
– Height: 8,145 meter
– Empty weight: 28.200 kg
– Loaded weight: 49.600 kg
– Max. takeoff weight: 56.000 kg
– Powerplant: 2 × Lotarev D-136 turboshafts, 8,500 kW (11,399 shp) each
– Maximum speed: 295 km/h
– Cruise speed: 255 km/h
– Range: 1.920 km (with auxiliary tanks)
– Service ceiling: 4.600 meter
– Crew: Five: 2 pilots, 1 navigator, 1 flight engineer, 1 flight technician
– Capacity: 90 troops or 60 stretchers/20.000 kg cargo
– Length: 40,025 meter (rotors turning)
– Rotor diameter: 32 meter
– Height: 8,145 meter
– Empty weight: 28.200 kg
– Loaded weight: 49.600 kg
– Max. takeoff weight: 56.000 kg
– Powerplant: 2 × Lotarev D-136 turboshafts, 8,500 kW (11,399 shp) each
– Maximum speed: 295 km/h
– Cruise speed: 255 km/h
– Range: 1.920 km (with auxiliary tanks)
– Service ceiling: 4.600 meter
Sumber : Indomiliter
Rabu, 23 Agustus 2017
Target Drone BTT-3 Banshee, Sang Pengecoh Rudal Hanud Starstreak
Potensi terjadinya missed target dalam sesi uji tembak rudal hanud (pertahanan udara) tentu sudah diperhitungkan. Maklum missed target bisa disebabkan beragam faktor, mulai dari kondisi cuaca, sistem pemandu rudal yang mungkin bermasalah, target drone yang kelewat lincah, atau kekeliruan dari operator. Missed target pun menjadi momok bagi segala jenis rudal, tak pandang itu rudal baru atau lama.
Dan belum lama ini, berita tentang missed target dikabarkan terjadi dalam sesi uji tembak rudal keluaran terbaru, Starstreak produksi Thales Air Defence, rudal jenis MANPADS (Man Portable Air Defence System) yang dioperasikan Arhanud TNI AD. Seperti dikutip dari Sindonews.com (21/8/2017), pada hari Sabtu (19/8/2017) sekitar pukul 06.00 WIB, telah dilangsungkan sesi uji tembak rudal Starstreak di Landasan TNI AU Kampung Pangawaren, Desa Pamalayan, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Dalam sesi uji tembak, rencananya ada 10 rudal Starstreak yang akan diuji. Kegiatan yang dipimpin oleh Letkol Cpl Sujoko (Koordinator dari Menhan RI) dan PT Len, selaku koordinator lapangan diikuti 70 orang, termasuk 13 ahli rudal yang datang dari Inggris. Sekitar pukul 09.00 WIB, dilaksanakan penerbangan target drone dan pada pukul 09.30 WIB dilakukan tembakan pertama Starstreak pada target drone Meggit BTT-3 Banshee, durasi waktu tembak 4 detik dari landasan. Namun hasilnya, tembakan tersebut meleset. Selanjutnya pada 10.50 WIB dilaksanakan tembakan kedua. Uji coba kedua ini pun gagal, tembakan Starstreak tak memgenai sasaran. Kegiatan uji coba Starstreak yang digadang sebagai rudal hanud tercepat di Indonesia (Mach 3.5) tidak dilanjutkan karena dua kali tembakan tidak tepat sasaran, sehingga sisa delapan rudal batal diuji coba pada hari itu.
Missed target dalam uji tembak rudal hanud juga pernah terjadi pada rudal Grom buatan Polandia yang digadang sebagai pengganti rudal Rapier. Dalam sesi uji tembak pada akhir tahun 2007 di Bulus Pesanteren, Kebumen – Jawa Tengah. Empat rudal Grom yang ditembakkan pada sasaran berupa target drone, kesemuanya gagal mengenai sasaran.
Meggit BTT-3 Banshee
Target drone yang diberi label Banshee ini seolah menjadi momok untuk rudal Starstreak. Masih ingat kasus ditemukannya drone misterius yang hanyut di Selat Philips, Perairan Riau pada April 2016? Nah drone itu adalah BTT-3 Banshee, target drone tersebut adalah kepunyaan Malaysia, dimana Malaysia beberapa hari sebelumnya tengah melakukan uji tembak rudal Starstreak, besar kemungkinan pengujian Starstreak kala itu juga mengalami missed target.
Target drone yang diberi label Banshee ini seolah menjadi momok untuk rudal Starstreak. Masih ingat kasus ditemukannya drone misterius yang hanyut di Selat Philips, Perairan Riau pada April 2016? Nah drone itu adalah BTT-3 Banshee, target drone tersebut adalah kepunyaan Malaysia, dimana Malaysia beberapa hari sebelumnya tengah melakukan uji tembak rudal Starstreak, besar kemungkinan pengujian Starstreak kala itu juga mengalami missed target.
Dalam beberapa foto yang diunggah terkait penemuan drone di Pantai Selatan Garut pada hari Minggu lalu, maka nampak jelas itu adalah Meggit BTT-3 Banshee. Meski digadang sebagai sasaran tembak, namun jangan anggap sepele Banshee, layaknya drone yang operasional di unit intai, Meggit BTT-3 Banshee dapat dikendalikan manuvernya dari GCS (Ground Control Station). Tak itu saja, Banshee juga dibekali payload avionic command and control digital, jika diperkukan payload juga dapat dipasangi perangkat kamera ala drone surveillance. Tak heran jika berdasarkan pengakuan warga yang menemukan, drone ini dikabarkan juga dilengkapi kamera.
Dengan kelengkapan fitur diatas, maka operator rudal hanud akan mendapat tantangan keras untuk menghancurkan Banshee yang dikendalikan dari darat. Dikutip dari situs resminya, Meggit BTT-3 Banshee disebut bisa menjalankan moda full autonomous dengan waypoint GPS dan navigasi semi otomatis. Lantas mengapa ditemukan parasut pada sosok drone bersayap warna kuning ini? Meggit BTT-3 Banshee tidak dilengkapi roda pendarat seperti halnya drone UAV Wulung, maka jika misi telah tuntas dan drone bisa selamat dari incaran tembakan PSU, selanjutnya mesin drone dapat ‘dimatikan’ di udara dan parasut akan mengembang agar drone bisa jatuh dengan aman ke permukaan.
Dirunut dari sejarahnya, Meggit BTT-3 Banshee telah dikenal sebagai target drone sejak awal dekade 80-an. Sebelum diproduksi Meggitt Defence Systems, drone ini digarap oleh Target Technology Ltd, perusahaan asal Inggris ini berangkat sebagai pengembang mesin ringan untuk drone. Kemudian pada tahun 1983, perusahaan ini baru resmi mempunyai desain drone sendiri.
Dirancang sebagai target drone yang mumpuni, Banshee dibangun dari material komposit, gabungan dari Kevlar dan glass-reinforced plastic. Struktur rancangan bodinya dilengkapi sirip ekor dan sayap model delta. Tentang dapur pacu, drone Banshee ditenagai mesin propeller 342 cc Normalair-Garrett two-cylinder two-stroke dengan tenaga 26 HP. Soal performa, drone target ini dapat melesat maksimum hingga 200 km per jam. Sementara endurance di udara ada di rentang 1 jam 15 menit sampai 3 jam, tergantung setting misi. Ketinggian terbang maksimum sampai 7.010 meter.
Di lingkup ASEAN, Malaysia dan Brunei Darussalam adalah pengguna Banshee. Brunei misalnya, negara kaya minyak ini sudah menggunakan Banshee sejak 1987 dan menambahnya pada 2010 dengan memesan Banshee 600. Sedangkan Malaysia sendiri sudah menandatangi kontrak senilai 0.6 juta dengan Meggitt Defence Systems pada September 2012, untuk pengadaan Banshee Aerial Target Systems selama lima tahun, lengkap dengan pelatihannya. (Haryo Adjie)
Sumber : Indomiliter
Final Pengadaan Sukhoi Su-35, Indonesia Sukses Dorong Rusia Untuk Imbal Beli Hingga 50%
Sesuai undangan konferensi pers dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan Kementerian Perindustrian pada 21 Agustus, maka hari ini menjadi momen yang penting sebagai ujung dari lika-liku pengadaan jet tempur pengganti F-5 E/F Tiger II. Dalam Konferensi Pers Bersama antar dua Kementerian hari ini (22/8/2017) di Aula Bhinneka Tunggal Ika, disebutkan skema imbal beli terkait proses pembelian sebelas unit Su-35 Super Flanker dari Rusia.
Disebutkan bahwa Pemerintah Republik Indonesa dan Rusia sepakat melakukan imbal beli dalam pengadaan alat peralatan pertahanan keamanan (Alpalhankam) berupa pesawat tempur Sukhoi Su-35 yang dibutuhkan oleh Kementerian Pertahanan Indonesia. Total nilai pembelian Su-35 mencapai US$1,14 miliar, dan ini memberikan potensi ekspor ke Rusia bagi Indonesia sebesar 50 persen dari nilai pembelian tersebut, atau persisnya senilai US$570 juta. Hal ini disampaikan Menhan Ryamizard Ryacudu dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pada Konferensi Pers Bersama.
Dalam Undang-Undang No 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, pada pasal 43 ayat 5 (e) dinyatakan bahwa setiap pengadaan Alpalhankam dari luar negeri waiib disertakan imbal dagang, kandungan lokal dan offset minimal 85 persen, dimana kandungan lokal dan/atau offset paling rendah 35 persen. Karena pihak Rusia hanya sanggup memberikan offset dan lokal konten sebesar 35 persen, maka lndonesia menegaskan kembali bahwa pembelian Su-35 ini dibarengi dengan kegiatan imbal beli yang mencapai 50 persen dari nilai kontrak.
Pemerintah lndonesia membeli Su-35 dari Rusia dan Rusia sebagai negara penjual berkewajiban membeli seiumlah komoditas ekspor dari Indonesia. Dengan skema imbal beli tersebut, Indonesia mendapat potensi ekspor sebesar 50 persen dan nilai pembelian Su-35 Persentase dalam pengadaan Su-35 ini yaitu 35 persen dalam bentuk offset don 50 persen dalam bentuk imbal beli. Dengan demikian, lndonesa mendapatkan nilai ekspor sebesar US$570 dari nilai US$1,14 miliar.
Kesepakatan tersebut ditandatangani pada 10 Agustus 2017 lalu, saat pelaksanaan Misi Dagang ke Rusia yang dipimpin oleh Menteri Perdagangan. Pemerintah Rusia dan lndonesia sepakat menunjuk Rostec dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) sebagai pelaksana teknis imbal beli tersebut. Dalam MoU, Rostec menjamin akan membeli lebih dari satu komoditas ekspor, dengan pilihan berupa karet olahan dan turunannya, CPO dan turunannya, mesin, kopi dan turunannya, kakao dan turunannya, tekstil, teh, alas kaki, ikan olahan, furniture, kopra, plastik dan turunannya, resin, kertas, rempah-rempah, produk industri pertahanan dan produk lainnya. Sementara itu, pihak Rostec akan diberikan keleluasaan untuk memilih calon eksportir sehingga bisa mendapatkan produk ekspor Indonesia yang berdaya saing tinggi.
Tentang jadwal pengiriman Su-35, Menhan menyebut bakal dilakukan dalam dua tahun (delivery pertama), sedangkan untuk kontrak resmi pengadaan akan dilakukan dalam waktu dekat ini. (Gilang Perdana)
KRI (RI) Alugoro 406, Bukti Indonesia Pernah Uji Tembak Rudal Jelajah Dari Kapal Selam
Merujuk ke Minimum Essential Force (MEF), harapan untuk menjodohkan rudal anti kapal sebagai sistem senjata di kapal selam Nagapasa Class terasa amat berat. Namun, tahukah Anda, bahwa di tahun 1962 justru ada kapal selam milik Indonesia yang pernah melontarkan rudal anti kapal, bahkan kelasnya jauh diatas UGM-84 Harpoon atau SM39 Exocet, yakni sosok alutista yang masuk segmen rudal jelajah (cruise missile) SS-N-3c Shaddock. Kapal selam yang dimaksud adalah KRI (d/h RI) Alugoro 406, salah satu dari 12 unit kapal selam Whiskey Class yang didatangkan dari Uni Soviet dalam kampanye Operasi Trikora. Bukan sebatas dibeli, tapi rudal berbobot 5 ton ini bahkan pernah diuji tembak.
Merujuk ke sejarah, KRI Alugoro 406 menjadi bagian terakhir dari paket pengiriman Whiskey Class dari Uni Soviet. Dalam gelombang akhir tersebut, KRI Alugoro 406 didatangkan bersama dengan KRI Wijayadanu 409, KRI Hendrajala 405, KRI Bramastra 412, KRI Pasopati 410, dan KRI Cundamani 411 Sementara dalam buku “Kapal Selam Indonesia” yang ditulis Indroyono Soesilo dan Budiman, diperlihatkan foto hitam putih saat KRI Alugoro 406 melepaskan rudal anti kapal ke udara. Namun berbeda dengan Harpoon dan Exocet, rudal anti kapal jenis SS-N-3c Shaddock dilepaskan dari atas deck kapal, dan hanya bisa dilakukan saat kapal selam berada di permukaan. Sayangnya dalam buku tersebut tidak dijelaskan lokasi dan waktu persis uji tembak dilakukan. Namun besar kemungkinan, rangkaian uji coba rudal terkait dengan psy war Indonesia kepada pemerintah Belanda.
Seperti apakah sosok rudal SS-N-3c Shaddock? Dengan bobot 5,4 ton bisa dipastikan dimensi rudal ini lebih menyerupai jet tempur ringan. Rudal ini sanggup menerjang sasaran sejauh 400 – 750 km dengan kecepatan Mach 0.9 (High Subsonic). Untuk urusan hulu ledak, Belanda dan Amerika Serikat layak dibuat cenat cenut, rudal yang diciptakan dalam suasana Perang Dingin ini mampu membawa hulu ledak nuklir 350 kiloton, sedangkan bila dimuati hulu ledak high explosive konvesional bisa sampai 1 ton. Dari rancangannya, rudal ini memang disasar untuk menembus lapisan pertahanan pantai di wilayah AS, mengkaramkan kapal penjelajah dan kapal induk.
![]() |
| KRI Alugoro 406 saat melepaskan rudal anti kapal. Foto repro dari buku “Kapal Selam Indonesia” |
Lantas yang menarik adalah sistem pemandu yang dipakai adalah terminal active radar homing yang dipadukan dengan inertial guidance via datalink. Selain dilepaskan dari kapal selam, varian rudal ini juga dirancang untuk dilepaskan dari kapal permukaan. SS-N-3c mengadopsi sayap lipat, alhasil rudal gambot ini dapat dimasukkan ke dalam silinder khusus dengan diameter yang relatif kecil, dan disematkan pada deck kapal selam. Whiskey Class dikenal sebagai salah satu platform pengusung rudal ini. Ada tua tiga tipe Whiskey Class untuk membawa SS-N-3c Shaddock, yaitu Whiskey Single Cylinder, Whiskey Twin Cylinder dan Whiskey Long Bin. Khusus untuk Long Bin ada perubahan fundamental pada conning tower, besar kemungkinan KRI Alugoro 406 mengadopsi Whiskey Single Cylinder. Selain Whiskey Class, generasi kapal selam Uni Soviet yang lebih modern juga dipercaya sebagai peluncur rudal ini, seperti Juliett class dan Echo class. Sedangkan untuk kapal permukaan, diusung oleh kapal penjelajah Kynda class dan Kresta I class.
Dilihat dari spesifikasi, SS-N-3c Shaddock punya panjang 11,75 meter dan diameter 0,98 meter. Lebar bentang sayap keseluruhan mencapai 5 meter. Perancang rudal ini adalah Vladimir Chelomey dan pertama kali digunakan militer Soviet pada tahun 1959. Serupa tapi tidak sama, AS juga punya rudal jelajah/anti kapal yang mirip SS-N-3c Shaddoc, yakni SSM-N-8 Regulus, rudal berukuran jumbo ini juga dapat dilepaskan dari kapal selam (saat di permukaan), punya jarak jangkau hingga 926 km, rudal ini mampu membawa hulu ledak hingga 1,4 ton. Seperti terlihat dalam foto dibawah ini, Regulus saat diluncurkan dari kapal selam USS Tunny pada tahun 1958.
Selain SS-N-3c, di era 60-an TNI AL juga pernah mengoperasikan rudal anti kapal Styx yang dipasang pada KCR (Kapal Cepat Rudal) Komar Class. Styx dirancang dengan kemampuan dan daya hancur tinggi, tak ayal Styx memang punya daya deteren amat tinggi di era tersebut. Indikatornya bisa dilihat dari berat hulu ledaknya yang mencapai 500 kg high explosive, sementara bobot rudal secara keseluruhan 2.340 kg dengan jangkauan efektif mencapai 40 km, meski dalam teorinya bisa mencapai jarak 80 km. (Gilang Perdana)
Langganan:
Postingan (Atom)



























